PHP? Siapa Takut!

Oleh: Ivan Irawan < ivanorma@softhome.net>
http://skripphp.xoasis.com

Bagian 5: Sebuah Perhentian Sementara

Membangkitkan Kenangan

Jika Anda masih juga membaca artikel bagian kelima ini, artinya Anda benar-benar tangguh dan berkemauan kuat. Perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan pada bagian-bagian sebelumnya telah cukup banyak memberikan bekal bagi Anda untuk membangun sendiri situs-situs dinamis dengan skrip PHP.

Pada bagian keempat, Anda telah melihat betapa PHP dapat digunakan untuk mengakses basis data MySQL. PHP dapat menyimpan, mencari, memperbaiki, dan menghapus informasi yang tersimpan pada basis data MySQL dengan sangat mudah dan sederhana. Anda ternyata tidak perlu sering mengkerutkan kening Anda. Memang inilah salah satu kekuatan PHP, kemudahan koneksi dengan basis data, bukan hanya dengan basis data MySQL, tapi juga dengan banyak basis data populer lainnya.

Dalam kenyataanya, kita sering mengalami bahwa data tidak tersimpan secara rapi dalam baris dan kolom basis data, dan seringkali juga Anda harus menyimpan suatu informasi dalam model file teks ASCII. Problem utama menjadi muncul, karena ternyata Anda belum mengetahui caranya.

Ada tiga pilihan untuk menghadapi situasi ini. Pilihan pertama Anda dapat menyuruh seseorang untuk memasukkan data-data tersebut ke dalam basis data. Pilihan kedua Anda dapat mengangkat tangan sebahu dan kemudian menghela nafas panjang sembari memutuskan untuk keluar dari pekerjaan Anda sekarang. Pilihan yang lain, Anda dapat menggunakan PHP untuk menyelesaikan problem Anda.

Karena Anda telah menunjukkan ketangguhan Anda untuk belajar PHP, saya yakin pilihan ketiga yang akan Anda ambil, dan inilah isi dari bagian kelima artikel PHP? Siapa Takut!

Pada bagian akhir artikel terakhir ini, kita juga akan mempelajari mengenai pembuatan fungsi-fungsi pada skrip PHP, yang akan membantu kemalasan kita untuk menulis bagian skrip berulang-ulang. Kencangkan sabuk pengaman Anda, dan kita masuki putaran final perjalanan kita.

Ditemukan Manuskrip Tua

Seperti juga bahasa pemrograman yang lain, PHP juga dilengkapi dengan fungsi-fungsi yang lengkap untuk menulis dan membaca file dengan mudah. Mari kita buat dulu sebuah file teks yang akan kita beri namamanuskrip.txtsebagai berikut.

Beribu abad yang lalu, kami adalah ras cerdas yang hidup dan berkelana ke seluruh penjuru jagad raya ini. Ketika kami sampai pada masa di mana ras kami tidak mampu mempertahankan populasi dan menuju kepunahan, kami menciptakan sebuah program protein yang membawa kode genetik dasar ras kami. Protein ini mampu berevolusi selama ribuan abad sampai akhirnya akan membentuk ras cerdas serupa kami. Kami sebarkan program ini pada sistem-sistem planet yang mampu mendukung evolusi program kami.

Jika kalian menemukan manuskrip ini, maka itulah tanda bahwa program protein kami telah berhasil membentuk kalian menjadi ras cerdas yang menguasai jagad raya ini, seperti harapan kami.

Sebelum Anda dapat menggunakan PHP untuk membaca isi dari file ini, Anda harus memastikan bahwa Anda memiliki permission untuk membacanya. Pada sistem berbasis Unix/Linux, hal ini dapat diyakinkan dengan perintah:


$ chmod 744 manuskrip.txt

Kini kita buat skrip PHP sederhana untuk membaca file tersebut dan menunjukkan isi serta ukuran file:


<?php

    // baca file
    $ukuran_file = readfile("manuskrip.txt");

    // tampilkan ukuran file
    echo "<br>Ukuran File = $ukuran_file byte.";

?>

Maka hasil tampilannya kurang lebih seperti ini.

Beribu abad yang lalu, kami adalah ras cerdas yang hidup dan berkelana ke seluruh penjuru jagad raya ini. Ketika kami sampai pada masa di mana ras kami tidak mampu mempertahankan populasi dan menuju kepunahan, kami menciptakan sebuah program protein yang membawa kode genetik dasar ras kami. Protein ini mampu berevolusi selama ribuan abad sampai akhirnya akan membentuk ras cerdas serupa kami. Kami sebarkan program ini pada sistem-sistem planet yang mampu mendukung evolusi program kami. Jika kalian menemukan manuskrip ini, maka itulah tanda bahwa program protein kami telah berhasil membentuk kalian menjadi ras cerdas yang menguasai jagad raya ini, seperti harapan kami.
Ukuran File = 681 byte.

Fungsi readfile() ternyata hanya sederhana tugasnya; membaca file dan menampilkan isinya. Fungsi ini juga menghasilkan ukuran file yang kita tampilkan pada skrip PHP di atas melalui perintah echo.

Begitu sederhananya, sehingga mungkin kita tidak akan begitu sering menggunakan fungsi readfile(). Kita membutuhkan fungsi yang lebih berguna lagi, yang selain melakukan apa yang dapat dilakukan fungsi readfile(), dapat digunakan untuk memformat data yang dibaca. Cobalah gunakan fungsi file() yang akan menghasilkan pembacaan file dalam bentuk variabel array PHP. Setiap elemen pada variabel array tersebut mewakili satu baris dalam file yang dibaca, dan jumlah elemen variabel array yang ada akan menunjukkan jumlah baris dalam file. Skrip PHP berikut ini akan lebih memberi kejelasan.


<?php

    // tentukan nama file yang akan dibaca
    $nama_file = "manuskrip.txt";

    // baca file, masukkan ke array
    $isi = file($nama_file);

    // cari jumlah baris
    $jumlah_baris = sizeof($isi);

    echo "File $nama_file berisi $jumlah_baris baris.<p>";

    // tampilkan hasil pembacaan baris per baris dengan perulangan for
    for ($i=0; $i<$jumlah_baris; $i++)
    {
         echo "Baris ".($i+1)." : <br>";
         echo $isi[$i]."<br>";
    }

?>

Pada skrip PHP di atas kita menggunakan fungsi file() untuk membaca isi file yang ditunjuk oleh variabel $nama_file dan baris demi baris isi file tersebut disimpan dalam variabel array $isi. Jumlah elemen dari variabel $isi didapatkan dengan menggunakan fungsi sizeof(), dan hasilnya disimpan dalam variabel $jumlah_baris. Baris demi baris isi dari file yang tersimpan pada elemen-elemen variabel array$isi ditampilkan dengan menggunakan perulangan for.

Hasil dari skrip PHP di atas adalah sebagai berikut.

File manuskrip.txt berisi 3 baris.
Baris 1 :
Beribu abad yang lalu, kami adalah ras cerdas yang hidup dan berkelana ke seluruh penjuru jagad raya ini. Ketika kami sampai pada masa di mana ras kami tidak mampu mempertahankan populasi dan menuju kepunahan, kami menciptakan sebuah program protein yang membawa kode genetik dasar ras kami. Protein ini mampu berevolusi selama ribuan abad sampai akhirnya akan membentuk ras cerdas serupa kami. Kami sebarkan program ini pada sistem-sistem planet yang mampu mendukung evolusi program kami.
Baris 2 :

Baris 3 :
Jika kalian menemukan manuskrip ini, maka itulah tanda bahwa program protein kami telah berhasil membentuk kalian menjadi ras cerdas yang menguasai jagad raya ini, seperti harapan kami.

Hilang Tak Berbekas

Skrip PHP di atas, semuanya dibuat dengan asumsi dasar bahwa file yang berusaha dibaca oleh skrip PHP telah tersedia. Dalam kenyataannya bisa saja file yang dimaksud tidak belum ada. Kondisi ini dapat menyebabkan waktu Anda terbuang untuk mencari kesalahan program. Anda dapat menghindari kejadian semacam ini dengan fungsi file_exists() yang dapat digunakan untuk menguji keberadaan file dan menampilkan pesan kesalahan yang sesuai jika file tersebut tidak ditemukan. Anda dapat dimodifikasi skrip PHP sebelumnya, sehingga menjadi seperti berikut ini (perubahan ditunjukkan dengan huruf tebal).


<?php

    // tentukan nama file yang akan dibaca
    $nama_file = "manuskrip.txt";

    // cek keberadaan file
    if (file_exists($nama_file))
    {
         // baca file, masukkan ke array
         $isi = file($nama_file);

         // cari jumlah baris
         $jumlah_baris = sizeof($isi);

         echo "File $nama_file berisi $jumlah_baris baris.<p>";

         // tampilkan hasil pembacaan baris per baris dengan perulangan for
         for ($i=0; $i<$jumlah_baris; $i++)
         {
              echo "Baris ".($i+1)." : <br>";
              echo $isi[$i]."<br>";
         }

    }
    else
    {

         echo "<b>File tidak ditemukan!</b>";

    }

?>

Jalankan program di atas dengan sebelumnya mengganti nama file manuskrip.txt atau dengan menghapus file tersebut. Maka pesan kesalahan File tidak ditemukan! akan muncul pada browser Anda.

PHP juga menawarkan banyak fungsi yang dapat memberikan informasi lebih detil mengenai keadaan sebuah file, berikut ini di antaranya:

  • is_dir()
    Untuk mengetahui apakah file yang ditunjuk merupakan direktori atau bukan.
  • is_link()
    Untuk mengetahui apakah file yang ditunjuk merupakan file link.
  • is_executable()
    Untuk mengetahui apakah file yang ditunjuk dapat dieksekusi dari shell.
  • is_readable()
    Untuk mengetahui apakah file yang ditunjuk merupakan file yang dapat dibaca.
  • is_writable()
    Untuk mengetahui apakah file yang ditunjuk merupakan file yang dapat ditulis.
  • fileowner()
    Untuk mendapatkan id pengguna pemilik file.
  • filegroup()
    Untuk mendapatkan id group pengguna pemilik file.
  • fileperms()
    Untuk mendapatkan jenis permissiondari suatu file.
  • filesize()
    Untuk mendapatkan ukuran dari suatu file.
  • filetype()
    Untuk mendapatkan jenis dari suatu file.

Fungsi-fungsi di atas sebagian besar hanya berarti pada implementasi PHP di sistem file berbasis Unix/Linux. Anda tidak akan mendapatkan hasil yang akurat jika fungsi-fungsi tersebut dijalankan pada sistem operasi lain, misalnya MS Windows 9x atau NT/2000/XP.

Anda dapat mencoba skrip berikut ini pada sistem Unix/Linux Anda. Hasilnya mungkin akan sangat berbeda jika Anda jalankan skrip ini pada sistem operasi yang lain


<?php

    // tentukan nama file yang akan dibaca
    $nama_file = "manuskrip.txt";

    // cek keberadaan file
    if (file_exists($nama_file))
    {
          echo "Nama File : <b>$nama_file</b><br>";

          // check apakah file merupakan direktori
          if (is_dir($nama_file))
          {
               echo "File adalah direktori.<br>";
          }

          // check apakah file merupakan link
          if (is_link($nama_file))
          {
               echo "File adalah link.<br>";
          }

          // check apakah file executable
          if (is_executable($nama_file))
          {
               echo "File sifatnya executable.<br>";
          }

          // check apakah file readable
          if (is_readable($nama_file))
          {
               echo "File sifatnya readable.<br>";
          }

          // check apakah file writable
          if (is_writable($nama_file))
          {
               echo "File sifatnya writable.<br>";
          }

          echo "Ukuran File : ".filesize($nama_file)."<br>";
          echo "Pemilik File : ".fileowner($nama_file)."<br>";
          echo "Group Pemilik File : ".filegroup($nama_file)."<br>";
          echo "Permission File : ".fileperms($nama_file)."<br>";
          echo "Jenis File : ".filetype($nama_file)."<br>";
    }
    else
    {
         echo "<b>File tidak ditemukan!</b>";
    }

?>

Pada sistem Unix/Linux, Anda akan mendapatkan hasil sebagai berikut:

Nama File : manuskrip.txt
File sifatnya readable.
File sifatnya writable.
Ukuran File : 681
Pemilik File : 538
Group Pemilik File : 100
Permission File : 33188
Jenis File : file

Pada sistem MS Windows 98, Anda kemungkinan akan mendapatkan hasil sebagai berikut:

Nama File : manuskrip.txt
File sifatnya readable.
File sifatnya writable.
Ukuran File : 681
Pemilik File : 0
Group Pemilik File : 0
Permission File : 33206
Jenis File : file

Inikah, Tanda-tandanya…

Sampai sejauh ini kita masih selalu membicarakan masalah pembacaan file, bagaimana dengan penulisan file? Penulisan file dalam PHP merupakan proses yang lebih kompleks dan melibatkan pointer file. Pointer file selain menandai file yang dibuka, juga memiliki informasi mengenai penanda letak/posisi dalam sebuah file yang dibuka. Proses penulisan (maupun pembacaan) dilakukan mulai pada posisi pointer file ini.

Fungsi yang akan kita gunakan untuk melakukan penulisan file adalah fungsi fopen(), yang sesungguhnya juga dapat digunakan untuk pembacaan file. Fungsi ini akan membuka sebuah pointer file, dan membutuhkan dua parameter yaitu nama file dan mode untuk file yang akan dibuka. Mode ini juga sekaligus menentukan posisi awal pointer file. Jenis-jenis mode pada fungsi fopen() adalah:

  • Mode Hanya Baca (read-only), diaktivasi dengan parameter “r”. Mode ini akan menempatkan posisi pointer file pada awal file.
  • Mode Hanya Tulis (write-only), diaktivasi dengan parameter “w”. Mode ini akan membuat file baru dan menempatkan posisi pointer file pada awal file. Jika file yang dibuka telah ada, maka isi dari file tersebut langsung dihapus.
  • Mode Baca-Tulis (read-write), diaktivasi dengan parameter “r+”. File dibuka untuk dapat dibaca maupun ditulis. Posisi pointer file adalah pada awal file.
  • Mode Tambahkan/Append (hanya tulis), diaktivasi dengan parameter “a”. Pada mode ini, posisi pointer file adalah pada akhir dari file yang akan memudahkan kita untuk menambah/menyambung data ke data yang telah ada. Jika file yang dimaksud tidak ditemukan, maka file yang baru akan langsung dibuat.
  • Mode Tambahkan/Append (baca/tulis), diaktivasi dengan parameter “a+”. Pada mode ini, posisi pointer file juga pada akhir dari file yang akan memudahkan kita untuk menambah/menyambung data ke data yang telah ada. Jika file yang dimaksud tidak ditemukan, maka file yang baru akan langsung dibuat. Tambahannya, selain menambah data, kita juga dapat melakukan pembacaan file.

Untuk sistem operasi yang tidak dapat membedakan antara file biner dan file teks ASCII biasa, misalkan di keluarga MS Windows, dibutuhkan sebuah parameter lagi jika kita ingin mengakses file jenis biner, yaitu parameter “b”. Parameter ini tidak berguna jika kita gunakan pada sistem operasi berbasis Unix atau Linux karena secara otomatis sistem filenya telah membedakan file biner dengan file teks ASCII.

Setelah membuka file dengan mode yang tepat, untuk melakukan penulisan ke file dapat kita gunakan fungsi fputs(). Jika kita selesai bekerja dengan file, maka kita harus menutup file tersebut dengan perintah fclose(). Contoh skrip PHP berikut ini akan menunjukkan caranya.


<?php

    // tentukan nama file
    $nama_file = "cobafile.txt";

    // buka file
    $kodefile = fopen($nama_file,"a");

    // tentukan data string
    $data = "Ini adalah transmisi sub space dari United Federation
             of Planets. Prioritas transmisi ini adalah pribadi dan
             rahasia. Jika benar demikian, apakah mungkin Anda
             menangkap transmisi ini... ha... ha... ha...!";

    // tuliskan data ke file
    fputs($kodefile, $data);

    // tutup file
    fclose($kodefile);

?>

Pada skrip PHP di atas, kita menentukan terlebih dahulu nama file yang akan dibuka. Fungsi fopen() yang kita gunakan akan membuka file tersebut dengan mode append write only dan menghasilkan sebuah pointer file yang kita simpan pada variabel $kodefile. Jadi setiap yang kita gunakan variabel $kodefile, maksudnya adalah file (dalam contoh di atas cobafile.txt), yang dibuka untuk proses append write only. Posisi pointer file akan diletakkan pada akhir dari file tersebut, untuk memastikan penambahan data tidak merusak data sebelumnya. Jika file yang dimaksud tidak ditemukan, maka PHP otomatis membuat file baru dengan nama cobafile.txt.

String data ditentukan setelah itu, kemudian dilakukan penulisan ke file dengan fungsi fputs(). Untuk memastikan penulisan dilakukan ke file yang benar, maka harus diyakinkan bahwa pointer file yang digunakan sebagai parameter dari fungsi fputs() adalah $kodefile. Parameter yang lain dari fungsi ini adalah string data yang akan ditulis, yang disimpan pada variabel $data. Terakhir, tentu saja, kita harus selalu membiasakan kerja rapi, jika kita membuka sesuatu, maka akhiri dengan menutup setelah semua aktivitas kita selesai. Membiarkan sesuatu tetap terbuka dapat mempermalukan kita, terutama jika berkaitan dengan hal-hal vital. Fungsi fclose() kita gunakan untuk menutup file yang telah kita buka sebelumnya. Parameter fungsi ini adalah pointer file, untuk memastikan kita telah menutup file yang benar.

Sekarang kita akan membuat sebuah contoh buku tamu yang bersahaja dengan ilmu yang telah kita dapatkan selama ini.


<html>
<head>
     <title>Buku Tamu Sederhana</title>
     <basefont face="Arial">
</head>

<body>

<?php

     // tentukan nama file
     $nama_file = "bukutamu.txt";

     // cek apakah ada form yang dikirim
     if ($simpan)
     {
          // buka file
          $kodefile = fopen($nama_file,"a");

          // simpan isi form

          fputs($kodefile, date("r",time())."<br>");

          if (trim($nama)=="") { $nama = "Mr. X"; }
          fputs($kodefile, "Nama : <b>$nama</b><br>");

          if (trim($e-mail)=="") { $email = "(tidak ada)"; }
          fputs($kodefile, "e-mail : <b>$email</b><br>");

          if (trim($komentar)=="") { $komentar = "(tidak ada)"; }
          fputs($kodefile, "Komentar : <b>$komentar</b><br>");

          fputs($kodefile, ".<br>");

          // tutup file
          fclose($kodefile);

     }

     ?>
     <font size=5>Mohon Isi Buku Tamu Ini</font>
     <form action="<?php echo $PHP_SELF; ?>"  method="POST">
     <table border=0 cellpadding=2 cellspacing=2>
     <tr>
     <td valign="top">Nama</td>
     <td>
     <input type="text" name="nama" size=50 maxlength=50>
     </td>
     </tr>

     <tr>
     <td>e-mail</td>
     <td valign="top">
     <input type="text" name="email" size=50 maxlength=50>
     </td>
     </tr>

     <tr>
     <td valign="top">Komentar</td>
     <td>
     <textarea name="komentar" rows="4" cols="50"></textarea>
     </td>
     </tr>

     <tr>
     <td colspan=2 align="center">
     <input type="submit" name="simpan" value="Simpan">
     </td>
     </tr>

     </table>
     </form>

     <br>
     <hr>
     <br>

     <?php

     // tampilkan isi file jika ada
     if (file_exists($nama_file))
     {
          echo "<b>Daftar Buku Tamu Yang Ada</b><p>";
          readfile($nama_file);
     }
     else
     {
          echo "File buku alamat belum ada!";
     }

?>

</body>
</html>

Nah, sebuah buku tamu yang sederhana namun fungsional telah berhasil kita buat dengan PHP tanpa basis data. Anda mungkin menemukan fungsi baru yaitu date() dan time(), yang berhubungan dengan waktu saat proses dilakukan. Fungsi time() (tanpa parameter) akan memberikan waktu saat fungsi ini dijalankan dihitung dari jumlah detik semenjak Epoch Unix atau tanggal 1 Januari 1970 jam 00:00:00 GMT. Untuk dapat menampilkan informasi waktu ini dengan benar, maka dibutuhkan fungsi date() yang memiliki dua parameter/argumen. Argumen pertama adalah format waktu, dan argumen lainnya adalah informasi waktu, dalam hal ini adalah hasil dari fungsi time(). Format waktu “r” menghasilkan bentuk standar RFC 822, contohnya “Thu, 25 Dec 2001 17:05:07 +0700”. Format-format lain mengenai tanggal dan waktu ini akan kita bicarakan pada artikel yang terpisah.

Saat skrip PHP di atas dijalankan untuk pertama kalinya, akan muncul form isian buku alamat, dan pesan bahwa file buku alamat belum ada. Jika form diisi dan dikirim dengan tombol simpan, maka skrip secara otomatis memanggil dirinya sendiri dan menambahkan data isian form ke file teks. Jika file tidak ditemukan, maka akan dibuat file baru. Setelah melakukan penambahan data teks, maka form kembali ditampilkan, dan isi file teks buku alamat ditampilkan setelah form. Demikian seterusnya. Ternyata semudah itu, ya!?

Jelangkung, Jelangkung, Di Sini Ada Pesta Kecil!

Bagian paling akhir dari artikel ini akan membahas teknik dasar membuat fungsi dalam skrip PHP. Mengapa kita perlu fungsi? Jawabannya adalah karena sifat pemalas kita membuat adanya keengganan kita menulis kode yang sama berulang-ulang. Hidup akan lebih nyaman karena waktu penulisan kode jadi lebih lebih singkat, dan tentu saja, makin sedikit kode, jumlah kesalahan yang akan muncul juga relatif berkurang. Kening kita tidak akan terlalu banyak berkerut meneliti baris per baris kode yang salah.

Penulisan skrip dalam bentuk fungsi-fungsi terpisah akan membuat program kita lebih bersifat modular. Dengan model seperti ini, pengembangan lebih lanjut skrip kita menjadi lebih cepat dan mudah.

Sebagaian besar perintah dalam skrip PHP adalah merupakan fungsi. Fungsi-fungsi yang kita gunakan selama ini, misalnya fungsi echo(), fungsi basis data, merupakan fungsi yang telah terdefinisi sejak awal dalam PHP. Kita tinggal menggunakannya sesuai dengan tujuan fungsi.

Sebagai makhluk yang tidak pernah puas, kadang-kadang kita ingin membuat fungsi-fungsi sendiri, yang menggabungkan fungsi-fungsi yang ada menjadi sesuai dengan keinginan di hati kita yang terdalam. Kedengarannya puitis sekali.

PHP menyediakan fasilitas pembuatan fungsi sendiri, sehingga hasrat Anda untuk hidup lebih nyaman akan terpenuhi. Sulitkah? Kalau sulit, berarti Anda sedang tidak mempelajari PHP…

Bentuk dasar pendeklarasian atau pendefinisian fungsi adalah sebagai berikut:


<?php

     function jelangkung()
     {
          [perintah 1];
          [perintah 2];
          [perintah 3];
          .... dan seterusnya ...
     }

??gt;

Setelah mendefinisikan sebuah fungsi, maka kita dapat dengan mudah memanggilnya melalui skrip. Lihatlah contoh berikut ini.


<?php

     function jelangkung()
     {
          [perintah 1];
          [perintah 2];
          [perintah 3];
          .... dan seterusnya ...
     }

     jelangkung();

??gt;

Pada saat parser PHP menemukan perintah pemanggilan fungsi, maka kontrol eksekusi program akan beralih pada lokasi dimana fungsi tersebut didefinisikan. Setelah seluruh perintah dalam blok fungsi itu dijalankan, maka kontrol eksekusi program kembali ke lokasi tempat pemanggilan fungsi tersebut.

Menjadi Calon Kadet Starfleet

Hm… main jelangkung ternyata tidak menarik. Kembali kita ke Star Trek. Contoh berikut ini akan menjelaskan mengenai implementasi fungsi sederhana. Berikut ini adalah pertanyaan dan jawaban soal benar/salah untuk seleksi calon kadet Starfleet, kekuatan militer United Federation of Planets.


<html>
<head>
     <title>Latihan Soal Jawab Calon Kadet Starfleet</title>
     <basefont face="Arial">
</head>

<body>

<?php

     // definisikan fungsi-fungsi
     function jawaban_benar()
     {
          echo "Benar!";
     }

     function jawaban_salah()
     {
          echo "Salah!";
     }

?>
<p>
Ras yang pertama kali berjumpa dengan ras bumi adalah ras Vulcan.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

<p>
Kode pesawat USS Enterprise pada Star Trek: The Original Series adalah
NCC-1701-C.<br>
Jawaban : <?php jawaban_salah() ?>

<p>
Kapal Angkasa ras Romulan (War Bird) dapat hilang dari pandangan.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

<p>
Teknologi Transporter dan Replikator memiliki prinsip kerja yang sama.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

<p>
Teknologi Warp yang digunakan ras Borg menggunakan Transwarp Conduit.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

</body>
</html>

Berikut ini adalah hasil skrip PHP bila dijalankan.

Ras yang pertama kali berjumpa dengan ras bumi adalah ras Vulcan.
Jawaban : Benar!

Kode pesawat USS Enterprise pada Star Trek: The Original Series adalah NCC-1701-C.
Jawaban : Salah!

Kapal Angkasa ras Romulan (War Bird) dapat hilang dari pandangan.
Jawaban : Benar!

Teknologi Transporter dan Replikator memiliki prinsip kerja yang sama.
Jawaban : Benar!

Teknologi Warp yang digunakan ras Borg menggunakan Transwarp Conduit.
Jawaban : Benar!

Kita dapat memanggil sebuah fungsi sebelum didefinisikan, asal masih dalam satu skrip. Ubahlah skrip sebelumnya menjadi seperti di bawah ini. Hasil keluarannya ditanggung tidak berbeda.


<html>
<head>
     <title>Latihan Soal Jawab Calon Kadet Starfleet</title>
     <basefont face="Arial">
</head>

<body>

<p>
Ras yang pertama kali berjumpa dengan ras bumi adalah ras Vulcan.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

<p>
Kode pesawat USS Enterprise pada Star Trek: The Original Series adalah
NCC-1701-C.<br>
Jawaban : <?php jawaban_salah() ?>

<p>
Kapal Angkasa ras Romulan (War Bird) dapat hilang dari pandangan.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

<p>
Teknologi Transporter dan Replikator memiliki prinsip kerja yang sama.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

<p>
Teknologi Warp yang digunakan ras Borg menggunakan Transwarp Conduit.<br>
Jawaban : <?php jawaban_benar() ?>

<?php

     // definisikan fungsi-fungsi
     function jawaban_benar()
     {
          echo "Benar!";
     }

     function jawaban_salah()
     {
          echo "Salah!";
     }

?>

</body>
</html>

Apa Yang Kuberikan, Apa Yang Kudapat

Fungsi-fungsi dapat pula kita berikan argumen untuk diolah di dalam fungsi, dan dapat pula kita buat agar memberikan sebuah hasil untuk diolah di luar fungsi. Contoh berikut adalah hasil modifikasi fungsi pada skrip terdahulu, sehingga fungsi-fungsi tersebut dapat memberikan sebuah hasil untuk diolah di luar fungsi.


<html>
<head>
     <title>Latihan Soal Jawab Calon Kadet Starfleet</title>
     <basefont face="Arial">
</head>

<body>

<?php

     // definisikan fungsi-fungsi
     function jawaban_benar()
     {
          $jawaban = "Benar!";
          return $jawaban;
     }

     function jawaban_salah()
     {
          $jawaban = "Salah!";
          return $jawaban;
     }

?>
<p>
Ras yang pertama kali berjumpa dengan ras bumi adalah ras Vulcan.<br>
Jawaban : <?php $hasil = jawaban_benar(); echo $hasil; ?>

<p>
Kode pesawat USS Enterprise pada Star Trek: The Original Series adalah
NCC-1701-C.<br>
Jawaban : <?php $hasil = jawaban_salah(); echo $hasil; ?>

<p>
Kapal Angkasa ras Romulan (War Bird) dapat hilang dari pandangan.<br>
Jawaban : <?php $hasil = jawaban_benar(); echo $hasil; ?>

<p>
Teknologi Transporter dan Replikator memiliki prinsip kerja yang sama.<br>
Jawaban : <?php $hasil = jawaban_benar(); echo $hasil; ?>

<p>
Teknologi Warp yang digunakan ras Borg menggunakan Transwarp Conduit.<br>
Jawaban : <?php $hasil = jawaban_benar(); echo $hasil; ?>

</body>
</html>

Terlihat perbedaan cara penanganan hasil fungsi. Pada skrip sebelumnya fungsi tidak memberikan hasil/nilai yang dapat diolah, tetapi langsung menampilkan sesuatu pada media keluaran standar (melalui perintah echo()). Karena fungsi yang telah dimodifikasi tidak dapat langsung menampilkan hasil fungsi tetapi memberikan hasil/nilai, maka sebuah variabel (dalam skrip di atas adalah $hasil) ditugaskan untuk menampung nilai yang dihasilkan oleh fungsi, sebelum ditampilkan dengan perintah echo().

Contoh berikut ini memberikan gambaran mengenai argumen/parameter fungsi.


<html>
<head>
     <title>Persamaan Luas Segitiga</title>
     <basefont face="Arial">
</head>

<body>

<?php

     // definisikan fungsi-fungsi
     function luas_segitiga($alas, $tinggi)
     {
          $jawaban = 0.5 * $alas * $tinggi;
          return $jawaban;
     }

     $alas_segitiga = 6;
     $tinggi_segitiga = 9;

?>
<p>
Luas Segitiga dengan<br>
- Alas : <?php echo $alas_segitiga; ?><br>
- Tinggi : <?php echo $tinggi_segitiga; ?><br>
Adalah =
<?php
    $hasil =  luas_segitiga($alas_segitiga, $tinggi_segitiga);
    echo $hasil;
?>
<br>

</body>
</html>

Fungsi luas_segitiga() yang kita buat, membutuhkan dua argumen, yaitu argumen panjang alas ($alas) dan argumen tinggi segitiga ($tinggi). Nilai kedua argumen ini diberikan pada saat pemanggilan fungsi yang disimpan dalam bentuk variabel PHP selama fungsi tersebut dieksekusi agar dapat digunakan pada proses eksekusi perintah-perintah PHP di dalam blok fungsi. Fungsi ini akan menghasilkan nilai luas segitiga yang diperoleh dari operasi matematis terhadap kedua argumen tersebut.

Setiap saat di dalam skrip PHP, kita dapat memanggil/menggunakan secara berulang-ulang fungsi-fungsi yang kita definisikan, baik yang didefinisikan dalam skrip tersebut maupun pada skrip lain yang telah diikutsertakan dengan perintah include() atau require(). Betapa sebuah berita yang baik bagi kita, karena kita tidak perlu menghabiskan waktu lagi untuk menulis beberapa bagian kode secara berulang-ulang. Anda pun bisa memiliki lebih banyak waktu untuk menonton acara TV kegemaran Anda.

Masalah Pribadi dan Masalah Umum

Kini kita akan melihat bagaimana sebuah variabel dapat dipakai oleh fungsi. Aturan dasarnya adalah:

  • Setiap variabel dalam sebuah fungsi adalah variabel lokal yang hanya berlaku di dalam fungsi itu sendiri. Variabel ini hanya bertahan dalam memori saat fungsi dieksekusi dan hilang dari memori saat fungsi selesai dieksekusi. Variabel lokal ini tidak dapat diakses dari luar fungsi.
  • Fungsi pada dasarnya tidak dapat mengakses variabel yang berada di luar fungsi tersebut.
  • Operasi terhadap argumen di dalam fungsi, tidak akan berpengaruh apa-apa terhadap variabel di luar fungsi yang digunakan sebagai argumen, bahasa dewanya, setiap argumen bersifat passed by value.

Mari kita lihat contoh skrip berikut ini.


<?php

     // berikan nilai ke sebuah variabel di luar fungsi
     $jenis_kecepatan = "impuls";

     // fungsi yang akan mengubah nilai variabel
     function ubah_kecepatan($nama)
     {
          $jenis_kecepatan = $nama;
          return $jenis_kecepatan;
     }

     // tampilkan nilai variabel sebelum pemanggilan fungsi
     echo "Sebelum pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah $jenis_kecepatan.<p>";

     // panggil fungsi
     ubah_kecepatan("warp");

     echo "Setelah pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah $jenis_kecepatan.";

?>

Jalankan skrip PHP di atas, dan Anda akan dapatkan hasil sebagai berikut.

Sebelum pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah impuls.

Setelah pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah impuls.”;

Perubahan nilai variabel $jenis_kecepatan di dalam fungsi tidak berpengaruh terhadap nilai variabel $jenis_kecepatan yang di luar fungsi, karena kedua variabel ini berbeda konteksnya. Variabel $jenis_kecepatan yang ada di dalam fungsi adalah variabel lokal fungsi dan tidak ada kaitannya dengan variabel $jenis_kecepatan yang berada di luar fungsi. Itu sebabnya nilai variabel $jenis_kecepatan di luar fungsi tetap tidak berubah setelah pemanggilan fungsi.

Bagaimana jika Anda ingin sekali mengubah nilai variabel di luar fungsi tapi dari dalam fungsi? Ada dua pilihan. Pilihan pertama, Anda putus asa dan tidak mau menggunakan PHP lagi, atau Anda dapat gunakan fungsi/perintah global.

Fungsi/perintah global akan membuat pengecualian dari aturan di atas, dan langsung membuat variabel yang ada pada fungsi mereferensikan variabel dengan nama sama yang ada di luar fungsi. Tidak usah bingung atas bahasa berbelit ini, langsung saja perhatikan modifikasi skrip sebelumnya.


<?php

     // berikan nilai ke sebuah variabel di luar fungsi
     $jenis_kecepatan = "impuls";

     // fungsi yang akan mengubah nilai variabel
     function ubah_kecepatan($nama)
     {
          global $jenis_kecepatan;
          $jenis_kecepatan = $nama;
          return $jenis_kecepatan;
     }

     // tampilkan nilai variabel sebelum pemanggilan fungsi
     echo "Sebelum pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah $jenis_kecepatan.<p>";

     // panggil fungsi
     ubah_kecepatan("warp");

     echo "Setelah pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah $jenis_kecepatan.";

?>

Kini coba Anda jalankan skrip ini lagi, niscaya Anda akan mendapatkan hasil seperti di bawah ini.

Sebelum pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah impuls.

Setelah pemanggilan fungsi, jenis kecepatan adalah warp.”;

Kebebasan Yang Berarti

Sejauh ini, fungsi-fungsi yang Anda buat selalu tertentu jumlah argumennya. Bisa tidak ada sama sekali, atau dalam jumlah yang pasti. Bagaimana jika kita tidak dapat memastikan jumlah argumen yang kita masukkan ke sebuah fungsi? Kadang satu, dua atau sekali waktu sepuluh argumen. Bisakah PHP menangani hal ini?

Karena topik ini masuk dalam artikel, jelas jawabannya pasti “bisa”. Baiklah, sekarang kita lihat caranya.

PHP 4, menyediakan fungsi-fungsi yang dapat kita gunakan untuk maksud ini, yaitu fungsi func_num_args() yang akan menghasilkan jumlah argumen yang diberikan pada sebuah fungsi, dan fungsi func_get_args() yang akan menyimpan semua argumen fungsi yang diberikan ke dalam bentuk variabel array. Kita dapat melihat implementasinya pada skrip berikut ini.


<html>
<head>
<title>Fungsi Dengan Jumlah Argumen Bebas</title>
</head>

<body>

<?php
     function awak_enterprise()
     {
          $argumen = func_get_args();
          return $argumen;
     }

     $nama_awak = awak_enterprise("Piccard", "Riker", "LaForge", "Worf");

     ?>

Berikut ini adalah nama-nama awak kapal USS Enterprise:
<ul>

     <?php

     for ($i=0; $i < sizeof($nama_awak); $i++)
     {
          echo "<li>" . $nama_awak[$i] . "\n";
     }

?>
</ul>
</body>

</html>

Hasil dari skrip di atas adalah:

Berikut ini adalah nama-nama awak kapal USS Enterprise:

  • Piccard
  • Riker
  • LaForge
  • Worf

Beginilah Akhirnya…

Selesai sudah perjalanan panjang kita dalam mempelajari dasar-dasar yang paling mendasar bagi pemula PHP. Dengan bekal lima bagian artikel ini, sesungguhnya Anda telah cukup siap untuk memulai sendiri membangun aplikasi atau situs dinamis dengan PHP. Tentunya, Anda harus banyak berlatih sendiri dan membaca artikel-artikel lain baik tingkat pemula, menengah maupun lanjutan/terapan. Kini Anda sadar, bahwa ternyata menggemari Star Trek dapat membantu Anda, paling tidak akan melatih Anda untuk berani mengunjungi tempat yang belum pernah dikunjungi oleh siapa pun.

Tetaplah belajar PHP, dan jangan bosan menantikan topik lain dari belajar PHP. Sampai di sini dulu …. Merdeka!*)

Tentang belokibado251191

Tamatan dari: Sma ESSA SENIOR Teulale Baucau dan SMAN No.02 Vila Nova Baucau sekarang masih menjelang kuliah di Instituto Professional De Canossa Dili Timor Leste fakultas Technology Computer.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s